Selasa, 30 Maret 2010

Yang Bersedih di Hari Raya

Oleh : Bayu Gautama


Meski bukan baru, tapi baju yang saya pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu juga yang dikenakan istri dan anak-anak saya. Tangis haru dan tawa gembira mewarnai suasana lebaran hari itu. Sepulang sholad Id, anak-anak cantik kami berlarian memburu nenek mereka untuk meminta cium. Setelah sebelumnya berhamburan di pelukkan kami, mengecup lembut tangan dan pipi kami. Saya dan istri membalasnya dengan kecup terkasih. Sebelum berlalu, tak lupa mereka meminta 'jatah' uang lebaran.

Ada air mata yang menetes saat kutatap wajah tua di hadapanku. Terlalu lemah hati ini untuk menahan rasa yang begitu dalam terhadap ibu, sesosok anggun yang selalu ingin kucium kakinya. Kurengkuh kaki letihnya, kunikmati wangi cintanya seraya berharap kelak mendapatkan surgaku dari sana. Lalu, mengalirlah doa dan kalimat penuh kasihnya untuk anak yang sering tak tahu membalas budi ini. Kemudian satu persatu adikku tersungkur di kakinya.

Aneka kue khas hari raya yang sejak subuh telah tersedia di meja ruang tamu nampaknya tak sabar menanti untuk disentuh. Saya dan istri, tentu saja takkan melewatkan hidangan khas lebaran di rumah cinta itu, Laksa Betawi. Tidak hanya anak-anak ibu yang menikmati Laksa masakan ibu, tapi juga sahabat-sahabat saya yang sengaja datang untuk dua hal; silaturahim dan Laksa!

Begitu indah dan harunya hari raya kami, hingga saya hampir terlupa akan sebuah janji jika saja tak diingatkan seorang sahabat. "Jadi kan kita ke sana?"

Berenam kami memacu kendaraan menuju tempat yang sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Untuk sementara, kami tangguhkan rencana silaturahim ke beberapa teman lama. Tak lebih dari lima belas menit, kami sudah sampai di depan sebuah rumah yang kami tuju.

Sebaris senyum belasan anak-anak dari halaman rumah menyambut salam kami. Seorang dari mereka yang paling besar mempersilahkan kami masuk ...

Rumah kecil itu, dinding-dindingnya terlihat terkelupas di beberapa sisi. Tak ada satu pun anak yang mengenakan baju baru, sepatu baru, juga tak ada yang terlihat tengah menghitung-hitung uang hasil pemberian saudara-saudara mereka. Tak ada kue khas hari raya. Tak tersedia ketupat lebaran, apalagi semur daging atau rendang pelengkap sayur bumbu kuning. Air yang tersedia untuk kami pun hanya air tak berwarna, jelas, karena mereka tak punya sirup.

Di rumah panti anak yatim itu, hanya ada mata-mata kosong menanti uluran tangan para dermawan. Mereka tak pernah lagi menikmati saat-saat indah di hari raya dengan aneka hidangan, pakaian bagus, cium dan peluk hangat dari orang-orang terkasih. Tak lagi mereka dapatkan punggung tangan dan pipi untuk dikecup sepulang sholat Id, juga kaki-kaki mulia tempat mereka bersimpuh, bahkan sebagian besar mereka pun tak pernah tahu wajah orang yang pernah melahirkannya.

Sebagian mereka mengaku terus bertanya, kenapa Allah membiarkan mereka hidup tanpa orang tua? "Apakah Allah tak ingin melihat saya bermanja dengan ibu?" tanya Ardi, salah seorang penghuni panti berusia delapan tahun. Tidak sedikit dari mereka terus berharap Allah mengembalikan orang tua mereka agar mereka bisa merasakan menjadi anak, yang mendapatkan kasih sayang orang tua, agar ada tangan yang dikecup saat berangkat dan pulang sekolah, agar ada satu kesempatan bagi mereka untuk menikmati manisnya berbakti.

Mereka seolah tak peduli dengan aneka makanan dan hadiah yang kami bawa. Bukan itu yang mereka rindui. Mereka mengaku sudah terbiasa hidup tanpa berlimpah makanan.

Bersekolah tanpa uang jajan pun sudah keseharian mereka. Ada yang lebih mereka rindui di sepanjang hari, terlebih di hari raya ini.

Akbar, lelaki kecil berusia enam tahun menghampiri dan berbisik di telinga saya, "Kak, gimana rasanya tidur ditemani mama?"

Gagal saya menahan air mata ini ....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar